Senin, 25 Maret 2013

Romantisme Di Masa Tua





Setiap pulang ke rumah entah rumah orang tuaku atau rumah mertua, selalu ada hal menarik yang aku dapatkan. Kusebut menarik karena hampir semuanya memberi hikmah tersendiri bagiku. Kali ini izinku aku menceritakan kembali kisah pulang kampung ke Pati, ke rumah mertuaku.


Dapur....., bagi ibu mertuaku adalah tempat yang penting artinya karena di sinilah tempat beliau “bekerja” dengan jabatan sebagai ibu rumah tangga. Di tempat inilah ibu mulai bercerita tentang Mbah Putri, ibu kandung mertuaku. Aku akan bercerita dengan menggunakan bahasa Indonesia saja ya karena bahasa Jawaku yang masih belepotan (meski versi aslinya pake bahasa Jawa).



Ibu Mertua (IM) : Nduk, Mbahmu lucu banget, persis kayak anak kecil.


Aku : Loh kenapa to kok lucu?


IM : Kemarin kan Ibu emang janji mau nginep di rumah Mbah-mu. Udah lama juga disuruh kesana tapi Ibu ndak sempat-sempat. Eh tapi pas giliran udah kesana, Ibu ndak bisa nginep.


Aku : Knapa gak nginep?


IM : Adikmu dari Kalimantan kan datang mau ngurus hajian Ibu, lah yo mosok Ibu ndak pulang ke rumah. Nanti adikmu mikir macem-macem.


Aku : Trus Mbah Putri gimana? Marah ndak?


IM : Nah ya itu yang bikin lucu.


Aku : Lucu gimana?


IM : Mbah Putri-mu nangis kayak anak kecil, huhuhu...huhuhu.... jan persis kayak anak kecil. Mbah-mu bilang, “Katanya kemarin mau nginep, kenapa gak jadi? Memang anak-anakku udah pada lupa sama Ibunya.” Ibu ya cuman bilang, “Ya ndak lupa to,lagi pada banyak urusan, namanya juga udah pada punya keluarga.”


Aku : (nahan ketawa sekaligus sedih) Trus..trus?


IM : Yo Mbah-mu nangis terus sampe Ibu pulang. Ibu yo bilang aja besok tak balik lagi ke sini. Eh mbahmu malah gak percaya, katanya paling besok ya ndak jadi. Trus kok ya beneran, besok ndak bisa ke rumah Mbah-mu soale ngurus hajian itu sampe sore, Ibu yo wis kesel.


Aku : Trus Ibu ndak ke rumah Mbah lagi?


IM : Ya ke rumah Mbah-mu besoknya lagi. Tak tanya to, kenapa kok kemarin tak tinggal sampe nangis kayak anak kecil.


Aku : Mbah jawab apa?


IM : Jawaban Mbah-mu bikin aku nangis, sesek.


Aku : Kenapa?


IM : Mbah-mu jawab,”Aku kan cuman pengen tidur ditemenin aja, dikelonin, ben anget, ben ayem. Rasannya udah lama tidur sendirian, gak ada temennya, gak ada yang ngajakin ngobrol.” Yo pengen nangis, pengen guyu. Ya malam itu Mbah-mu tidur sambil tak kelonin rapet nduk, pet..pet...koyo ngelonin Abine Farhan jaman cilik. Ealah kayak gini to nek udah tua, sendirian, kesepian, kayak anak kecil, bener-bener kembali jadi anak kecil. Tapi ya Ibu ngerti nduk, nanti nek tua, ndak kuat apa-apa, paling yo Ibu persis koyo Mbah-mu Putri. Pengene yo deket anak-anak sama cucu.


Aku : Nanti kalo Ibu tua, insyaallah tak kelonin kalo tidur,hehehhee


IM : Yo nek koe mulih neng Pati, lhah nek neng Semarang piye leh ngeloni?


IM&Aku : (tertawa bareng) Hahhahahahhaaha




Itu mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah yang bisa jadi akan kita alami ketika tua nanti. Aku hanya berpikir, sebenarnya ketika kita semakin menua, sepertinya keinginan kita semakin sederhana, hanya ingin diperhatikan seperti layaknya anak kecil. Dan minta “dikelonin” itu adalah salah satu cara mendapatkan perhatian. Cara Mbah Putri-ku mencari perhatian dan mendapatkan romantisme kembali di masa tuanya.



#Semoga bermanfaat

Mungkin Aku Sedang Cemburu

Aku punya 1 suami yang menikahiku 12 Oktober 2008, Alhamdulillah masih 1 (# emang boleh ampe 4?????)

Di tahun kedua lebih 2 bln pernikahan kami, Allah menghadiahkan seorang putra bernama Farhan Abdillah. Lahir pada tanggal 2 Desember 2009. Dulu maunya dikasih nama Muhammad Dude (biar mirip kayak Dude Herlino...tapi berhubung suamiku ndak setujuh jadi yahhh isengnya dibatalin, yah lagian juga ngasih nama anak kan mesti yg punya arti baik,hehhee). Farhan lahir setelah perjuangan panjang ”membawa” dia di perutku. Kubawa kuliah, kubawa masak, kubawa ngaji, kubawa shalat, kubawa penelitian, kubawa ngerjain thesis, ketemu dosen, pokoknya kemana-mana kubawa, gak bisa deh ditaroh barang sebentar (ya iyalah....). Perjuangan itu berkhir di sebuah ruang operasi karna aku mesti caesar----> yupz, karena air ketubanku udah pecah duluan dan gak ada pembukaan sama sekali. Melahirkan tanpa ditemani suami, tentu bukan hal yang menyenangkan, tapi akan tetap membahagiakan mendapati seorang bayi mungil tiba-tiba memecah kesunyian ruang operasi dengan tangisannya. Subhanallah, aku hanya bisa menangis dan terus bersyukur, meski sambil menggigil karena efek obat biusnya (kata dokter).

Farhan tumbuh layaknya anak-anak kebanyakan, berada lengkap bersama kedua orang tuanya, yaitu aku dan si Kakak (baca: suamiku), mendapatkan ASI eksklusif, merangkak, duduk, dan rembetan secara bersamaan di usia 6 bulan, berjalan di usia 1 tahun. Membahagiakan karena aku bisa jadi saksi hidup yang melihat ia bertumbuh dan berkembang secara langsung. Hampir setiap momen aku menyaksikan langsung dan kusebut ini bonus dari pekerjaanku sebagai Ibu Rumah Tangga. Meski tak bisa aku pungkiri tentu ada hal yang kadang sangat menguji kesabaranku selama mengasuh dan mendidik Farhan.

Buatku, bersama Farhan adalah pengalaman pertama mengasuh anak which means eksperimen pertamaku mengaplikasikan sekian banyak pengetahuan yang aku dapat dari berbagai sumber. Ada rasa minder, rasa takut jangan2 aku gak bisa menjadi ibu yang baik. Beruntunglah suamiku selalu memberi support terbaiknya kepadaku, alhamdulillah.

Sekarang, Farhan sudah melewati usianya yang ke-3. Farhan cukup mandiri karena sekarang Farhan sudah bisa membasuh sendiri kalo abis BAK, bisa mandi sendiri, makan 80% udah sendiri, abis makan minta dicuci sendiri piringnya, dll .Di sisi lain, aku harus beradaptasi (lagi) dengan kebiasaan-kebiasaan barunya. Termasuk yang satu ini..... ”LEBIH MEMILIH ABI KETIMBANG AKUH” ------Hiks, hiks.. Entahlah apa mungkin karena mereka sama-sama laki-laki atau aku tidak lebih menyenangkan daripada Abi Farhan. Well, apapun alasannya tetap meninggalkan sedikit luka di hati. Mau berangkat ke kantor ditangisi, agak siangan nanyain abinya kapan pulang, abinya pulang langsung deh aku ditinggal sendirian, hiks. Ada aja permainan mereka yang memang kadang gak terpikirkan olehku (mungkin krn aku perempuan ya?). 1 hari... 2 hari...masih menyenangkan karena jujur ketika Farhan bersama si Kakak, aku ada waktu untuk sedikit ngelurusin kaki setelah seharian mengasuhnya. Tapi, lama-lama aku kok ngerasa kayak abis ditinggalin orang yg dicintai ya??? Aku tiba2 rindu digelayuti kalo mau pergi keluar rumah, aku tiba-tiba rindu rengekannya untuk bermain bersama, aku juga tiba-tiba rindu memandikan ia setiap pagi dan sore hari...huhuuuhuhuhu #nangis. Dan yang paling parah, tiba-tiba muncul rasa khawatir karna tahun ini insyaallah Farhan mau masuk PAUD, trus siapa nanti yang menemaniku di rumah???hiks...hiks...aku pasti akan sangat merindukannya. Tak terbayang nanti Farhan akan lebih banyak bercerita kegiatannya bersama guru dan teman-temannya, dan aku tak menjadi tokoh apapun di dalam ceritanya. #okeh....tarik napassss, elap air mata.

Duh, beginikah rasanya jadi manusia yang di kakinya tersematkan surga bagi seorang anak yang berbakti? Seperti inikah rasanya dulu ketika Ibu melepasku untuk kuliah jauh dari tempat tinggalku?

Apakah ini yang kau rasakan Pak ketika melepasku saat hari pernikahanku dulu?

Aku bukannya tak suka anakku bertumbuh dan berkembang, hanya mungkin aku sedang mempersiapkan diriku untuk bisa ”ridho” dengan dunia yang akan dijalani anakku.

Aku bukan gak rela melepas anakku untuk mulai mengenal kehidupan, hanya mungkin aku terlalu egois memikirkan nasibku tanpanya full 24 jam lagi.

Aku juga gak bisa dikatakan bodoh karena menangisi sesuatu yang belum terjadi, hanya mungkin aku cuma mau bilang mungkin aku lagi cemburu.

Apapun itu, hidup kan mesti berlanjut ya???? Gak bisa kita hentikan semau kita. Aku sedang berusaha menata diri lagi untuk menjadi lebih baik bagi Farhan. Belajar untuk tidak lagi cemburu dengan pilihan yang akan ia buat



#Semoga kau sayang padaku lebih besar lagi setiap harinya ya anakku sayang karna kasih sayangku sepertinya tak menemukan tempat yang mampu menampung selain di hatimu



Ketika Tarawih....


Hanya di bulan Ramadhan, setiap malam masjid atau musholla penuh dengan jama'ah 
Hampir semua warga akan segera memenuhi panggilan shalat lewat adzan yang dikumandangkan
Seorang ibu yang biasanya hanya shalat di rumah, kali ini selalu menyempatkan diri shalat berjama'ah di masjid
Hmmmm....rupanya semua orang sudah terpikat dengan pahala Ramadhan yang Allah janjikan

Di bulan Ramadhan, seorang suami mengajak istrinya, Bapak dan Ibu mengajak anak-anaknya dan semua anggota keluarganya untuk shalat berjama'ah di masjid
Ada banyak alasan mengapa orang tua mengajak serta anak-anak mereka
Dari yang ingin mengajarkan sejak dini tentang ibadah shalat sampai alasan gak ada yang nungguin si anak kalo ditinggal shalat di masjid

Nah!!! Kalo sudah begini, tentu harapan suasana tenang ketika shalat tak selalu kita dapatkan
Apalagi meski jumlahnya tak sebanyak jama'ah shalat, anak-anak punya sederet "kesibukan" ketika di masjid
"Kesibukan" mereka inilah yang terkadang akan sedikit membuat jama'ah shalat agak sedikit terganggu bahkan dongkol (barangkali)
Apapun itu, harusnya kita masih bisa berbangga hati (hehehe), ketika kita shalat, anak-anak malah udah praktek naik haji
Lihat saja...mereka melakukan praktek thowaf, berlari kecil mengelilingi area masjid, melakukan praktek sa'i dengan berlari bolak-balik di atas sajadah pada satu shaf yang mereka pilih, belajar berteriak lantang ketika Pak Ustadz ngasih kultum (lirik anakku....yang ikut teriak juga) hingga nanti semoga kuat memekikkan takbir (aamiin). 
Asal jangan praktek lempar umroh aja ya nak, bisa bubar nanti jama'ah shalatnya

Di sinilah menariknya keberadaan pasukan "kecil" itu di masjid yang setiap hari senantiasa menemani kita shalat di masjid
Mengapa menarik, karena adanya mereka adalah sarana pelatihan untuk kita
Menahan rasa dongkol karena terganggu kekhusyu'an shalatnya
Menahan marah ketika sajadah kita berantakan dan mungkin kotor ketika mereka injak-injak
Dan buat pak ustadz, sebagai latihan sabar ketika suaranya mendapat saingan dengan adanya teriakan anak-anak
Lalu akan diamkah kita melihat fenomena ini?
Menyuruh anak-anak pulangkah ketika keberadaan mereka mulai mengganggu jama'ah shalat yang lain?
Memarahi merekakah?
Mencari siapa sih orang tuanya yang gak mampu mendidik anaknya untuk bersikap yang baik di masjid?
Well, tentu kita sepakat bahwa bukan begitu cara kita 

Buat kita para orang tua, ridho sajalah dulu dengan "kesibukan" mereka
Karena ridho gak ridho, mereka juga akan tetap "sibuk"
Suka gak suka, mereka juga akan tetap "sibuk"
Senewen gak senewen, mereka juga akan tetap "sibuk"
Mereka hanya anak kecil yang masih belajar mengenal mana yang baik dan mana yang kurang baik
Mereka hanya anak kecil yang sedang belajar bagaimana bersikap yang baik di tempat yang tepat

Lalu..?????
Mengingatkan dan menasehati mereka tentu menjadi pilihan utama
Mengatakan bahwa, "Mas, mbak, dek, yang anteng ya di masjid!"
Atau bisa ditambahkan dengan, "Kalo adek mau main, boleh, tapi di teras masjid aja ya, ndak usah teriak-teriak, lari-larian di atas sajadah orang"
Atau dengan kalimat lainlah yang lebih pas, tentu anda lebih paham daripada saya
Berharap semoga tidak ada satupun kalimat kita yang akan membuat mereka trauma untuk kembai menyambangi masjid
Karena kelak, masjid akan butuh mereka untuk meramaikan, memakmurkan dengan segala aktifitas kebaikan
Berdoa saja ketika mereka bertambah usia, mereka akan semakin mengerti harus bersikap seperti apa ketika berada di masjid